PENANAMAN
SIKAP OPTIMISME
A. Pengertian Sikap Optimisme
Sikap optimisme berarti sikap yakin adanya kehidupan
yang lebih baik dan keyakinan itu kita jadikan sebagai bekal untuk meraih hasil
yang lebih baik. Kita kadang punya optimisme yang besar dan padam detik
selanjutnya langsung punya sikap pesimis. Sebenarnya, untuk membedakan antara
sikap optimis dengan pesimis itu tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Karena
tergantung kepada cara kita memandang maka itu berarti yang berperan adalah
diri kita sendiri dalam memilih dan menentukan kehidupan kita. Jika kita
mempunyai keinginan dan tujuan yang sangat besar dan juga mempunyai persiapan
dan pengetahuan yang diperlukan, ditambah dengan rasa optimis dan percaya diri.
Maka segala tujuan kita pasti akan cepat tercapai/terwujud.[1]
Bahwasanya percaya diri dan optimisme itu saling
terkait satu sama lain. Sebab, percaya diri tanpa ada optimisme tidak akan
pernah ada artinya, karena sikap optimis merupakan daya yang besar untuk
mendorong apa yang kita pikirkan dan lakukan. Dan percaya diri itu sangat
membutuhkan sikap optimis.
Bayangkan, kita tidak akan pernah merealisasikan suatu
pekerjaan yang kita inginkan jika kita tidak mempunyai rasa optimis untuk mampu
mengerjakannya. Kalau sudah punya rasa optimis, tentu dengan sendirinya kita
akan mempunyai sikap percaya diri yang sangat besar untuk mewujudkan apa yang
kita inginkan. Jadi, sudah sangat jelas bahwa rasa percaya diri dan juga
optimisme itu sangat penting dalam menapaki jalan kesuksesan bagi siapa pun dan
dalam kondisi apapun.[2]
Untuk itu sikap optimis perlu dibina sejak dini pada
anak-anak. Karena anak adalah peniru ulung maka optimisme itu perlu dicerminkan
terlebih dahulu pada para orang tua. Untuk menularkan optimisme kepada anak,
orang tua hendaknya selalu menunjukkan sikap optimistik. Misalnya, selalu
memotivasi dengan berkata, “Kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini”, “Semua
kesulitan ini pasti bisa kita atasi”, “Kamu tidak boleh menyerah dan putus asa,
harus optimis dalam menghadapi kesulitan,” menunjukkan tindakan dan usaha yang
maksimal saat menghadapi kesulitan. Orang tua dapat menunjukkan cara terbaik
dalam menghadapi kesulitan, seperti dengan menunjukkan usaha yang tanpa henti untuk
memecahkan tantangan, tidak mudah menyerah dan putus asa, dan senantiasa
menunjukkan ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan.[3]
Namun hari ini banyak orang tua maupun guru yang
gelisah bagaimana menjadikan anak optimis. Islam seakan-akan sudah tidak cukup
lagi. Padahal, kita yang menjadi penyebabnya. Sebagai contoh kita ajarkan anak
berjilbab agar mereka menjadi orang yang memuliakan syariat Allah semenjak usia
masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan
keinginan untuk memperoleh tepuk tangan manusia yang kita bangkitkan. Lalu,
apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka?
Jika perkataan saat menyuruh memakai jilbab dan
pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang
kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah.
Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi SAW mengingatkan: “Sesungguhnya darah
kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini,
pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh
ditumpahkan darahnya. Tuhan sekalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam
dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling
takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena
takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?” Inilah seruan Nabi agar
kita semua selalu beroptimis karena kita semua sama, yang membedakan hanyalah
ukuran takwa.[4]
Optimisme itu ada beberapa macam. Ada optimisme orang
lalai yang lebih dekat dengan berkhayal dibandingkan dengan realitas. Ada
optimisme yang serius dan lurus yang mendorong pemiliknya untuk memandang
dengan serius dan realistis. Dan, ia bukanlah perasaan alami atau keadaan
kejiwaan yang dianugerahkan kepada beberapa orang yang beruntung. Namun ia adalah
sikap dan akal yang dipilih oleh manusia dengan kehendaknya. Ia tercerminkan
terutama pada tindakannya meneliti seluruh masalah yang terjadi atau ia alami.[5]
B. Penanaman Sikap Optimisme dalam Perspektif Islam
1. Pentingnya Sikap Optimisme dalam Kehidupan
Sikap optimisme sangat penting dimiliki oleh seseorang
karena apabila seseorang memiliki rasa pesimis atau putus asa, seseorang
tersebut seakan telah mati dalam usia yang dini. Hal itu karena ia merasa bahwa
dunia sudah gelap, segelap alam kubur. Seketika itu ajal menjadi cita-cita dan
harapannya seakan telah menjemput sebelum kematian sesungguhnya datang.
Kematiannya seakan telah tercatat dalam barisan orang yang telah meninggalkan
dunia, walaupun jasadnya masih hidup.[6]
Maka dari itu, ada beberapa alasan betapa pentingnya
sikap optimisme dalam kehidupan yaitu:
Pertama, energi positif. Kalau bicara harapan
sebatas harapan, tentunya harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa, lalu untuk
apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini untuk mengeluarkan energi positif
(dorongan). Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan
harapan yang baik. Memiliki harapan baik akan memunculkan energi dorongan yang
lebih baik pula. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan
hanya harapan, namun untuk meraihkan dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu
ada yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih
da.
Kedua, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang
terhadap masalah atau hambatan yang dihadapi terkait dengan tingkat hambatan
yang dihadapi terakit dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme kuat
biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya,
orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang
lebih lemah, cenderung lebih mudah menyerah pada realitas ketimbang
memperjuangkannya. Secara agak lebih ekstrim, kita bisa membagi manusia dalam
menghadapi masalah menjadi tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Borwn dalam
Learn to be Winner, yakni the winner (pemenang), the loser
(pecundang), dan the potential winner (calon pemenang). Menurut Kevin Costner,
yang disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi
pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya
dengan teguh untuk mencapai impiannya. Apa yang membuat seseorang menjadi
pemenang dan pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau melihat
kondisi faktor internal, tentu peranan harapan atau optimisme tidak bisa
dielakkan. Kalau mau pakai pedoman pendapat Greg Philip (The Ultimate
Potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu adalah : a) harapan, b)
keyakinan, c) kontrol diri, d) sikap mental.
Ketiga, sistem pendukung. Optimisme juga berfungsi
sebagai sistem pendukung kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita
berpikir berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan
untuk berhasil, dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu,
maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain. Intinya,
harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita tidak boleh
menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini
adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi positif, bisa
mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin
prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.[7]
Perlu diingat bahwa menjadi orang yang optimis, tidak
secara otomatis langsung membuat kita mendapatkan impian yang kita inginkan,
tetapi untuk mendapatkan impian itu dibutuhkan batin yang optimis. Sehingga
setiap kegagalan akan diganti oleh sebuah kesempatan yang setara atau bahkan
lebih baik bila kita optimis dan tetap fokus pada sasaran tersebut, dan
senantiasa membandingkannya dengan setiap kegagalan yang ada akan mengecewakan
kita. Namun orang yang memiliki batin optimis tidak akan merasa seperti itu
walaupun sasaran atau keinginannya tidak tercapai ia akan tetap optimis karena
masih ada jalan lain baginya. Memang akan selalu ada jalan keluar dari setiap
permasalahan yang terjadi hanya saja terletak pada bagaimana kita menyikapi
setiap masalah-masalah tersebut.
Kegagalan dan kesuksesan adalah dua sisi mata uang
yang saling melengkapi. Orang yang ingin sukses harus tahu bahwa ada saat-saat kegagalan.
Yang penting di sini bukan sekedar mencari sukses, tetapi juga mengerti “apa
yang menyebabkan kegagalan”. Bukan meratapi mengapa ini terjadi, tetapi
berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi seperti
itulah gambaran sikap optimisme.[8]
Tetapi kalau melihat praktek hidup, tidak semua
optimisme itu baik. Tidak semua optimisme itu kita perlukan. Ada bentuk-bentuk
keoptimisan yang memang perlu kita jauhi. Ini antara lain :
Pertama, terlalu optimis. Kata Imam Ghazali,
sesuatu yang serba terlalu itu akan memantulkan kebalikannya. Optimis itu jelas
bagus tetapi terlalu optimis itu tidak bagus. Terlalu optimis artinya kita
punya harapan yang berlebihan akan adanya kebaikan hari esok dan mengabaikan
hal-hal yang berpotensi menimbulkan keburukan.
Kedua, optimis tanpa dasar dan alasan. Seperti
yang sudah kita bahas di muka, salah satu syarat mendasar untuk menjadi orang
yang optimis adalah memiliki sasaran. Sasaran ini pun tidak sembarang, tetapi
sasaran yang sudah kita pertimbangkan dengan akal sehat. Sasaran ini bukan
fantasi atau khayalan yang dasarnya hanya mood sesaat. Kalau kita tidak
memiliki sasaran yang jelas tetapi kita memaksa diri untuk optimis, ini bisa
jadi kita mencoba berpura-pura optimis.
Ketiga, optimis hanya untuk tujuan optimis.
Optimisme itu adalah jalan hidup, bukan tujuan hidup. Jalan di sini maksudnya
alat yang perlu kita gunakan dalam menjalani hidup ini. Tujuannya apa kita
optimis? Dengan optimis, kita punya dorongan yang kuat untuk melakukan hal-hal
yang positif agar tidak mudah dikalahkan oleh kebrutalan kenyataan hidup ini. Bila
tujuan itu tidak tercapai maka optimisme yang kita miliki adalah optimisme yang
hanya untuk optimisme.
Meski secara teori semua orang sudah tahu perbedaan
antara jalan dan tujuan ini, tetapi dalam prakteknya belum tentu. Banyak orang
yang lupa membedakan antara jalan dan tujuan dalam praktek. Abraham Maslow
pernah mengeluarkan nasihat bahwa salah satu yang penting untuk diingat bagi
siapa pun yang ingin mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan antara
jalan dan tujuan ini dalam praktek hidup. Semoga ini selalu bisa kita ingat.[9]
C. Manfaat Sikap Optimisme dalam Kehidupan
Orang optimis memiliki pandangan hidup yang fair.
Seperti apa pandangan hidup yang fair ini? Fair artinya adil atau
sesuai dengan bagaimana hidup ini. Sebetulnya semua manusia memiliki alasan
yang tepat untuk optimis atau pesimis. Kalau bicara alasan yang bermanfaat
untuk kita, tentu alasan optimis yang jauh lebih bermanfaat untuk kehidupan
kita. Jadi yang perlu kita ingat di sini adalah membedakan alasan yang menurut
kita benar dan alasan yang bermanfaat untuk kita. Manfaat optimisme adalah
sebagai sumber inspirasi, vitalitas dan harapan.
Optimisme akan mendorong kita untuk mengangkat
pandangan mata lebih atas, menciptakan masa depan bagi dirinya, dan tidak
menjadikan masa depan sebagai sumber ketakutan atau ancaman. Pandangan hidup
adalah pilihan yang kita ciptakan. Kalau kita menciptakan pandangan yang
positif terhadap diri sendiri, ini tidak berarti di dalam diri kita tidak ada
hal-hal yang negatif. Demikian juga kalau kita menciptakan pandangan yang positif
terhadap keadaan, tidak berarti di sana tidak ada hal-hal negatif. Hal-hal yang
positif itu ada di mana-mana sama juga seperti hal-hal negatif, yang ditawarkan
kepada kita adalah pilihan.[10]
Jangan sampai kita termasuk di antara orang-orang yang
menyalahkan diri kita sendiri karena kita dikalahkan dengan rasa minder kita,
sehingga tidak bisa merasakan efek atau manfaat atas sikap optimisme dalam
hidup kita. Karena semua orang pasti memiliki cita-cita, dengan berpandangan
hidup optimisme ini kita bisa mewujudkan cita-cita kita dengan cara yang paling
cepat dan tepat. Caranya adalah ketentuan dan keberanian, karena apa yang ingin
kita raih dalam hidup ini tidak mendatangi kita, tetapi kitalah yang harus
mendatanginya. Keberhasilan dan kesuksesan harus kita kejar, agar kita dapat
meraihnya. Perhatikanlah bahwa orang-orang yang paling berhasil, yang mampu
mewujudkan berbagai ambisi mereka, dan memperoleh masa depan yang paling gesit
dan tekun. Percayalah bahwa setiap manusia mampu memiliki suatu kecakapan dalam
berbagai bidang. Karena, semua orang tanpa terkecuali memiliki intelegensi
alami yang sama.[11]
Potensi manusia sungguh luar biasa. Dengan
kelebihan-kelebihannya diberikan Allah manusia dapat menaklukkan sesuatu yang
tadinya tidak terpikirkan oleh diri mereka sendiri. Dan kesuksesan tidak
semata-mata diukur pada hasil tapi juga pada proses-proses merencanakan dengan
tujuan yang benar dan mulia. Proses mengorganisasikan dengan rapi dan
sistematis. Proses melaksanakan dengan ikhlas, tekun, teliti dan profesional.
Dan proses evaluasi dengan jujur dan semangat perbaikan tak kenal henti. Dan
cita-cita adalah separo dari kesuksesan karena orang yang bercita-cita mulia
tak mudah goyah untuk menggadaikan di tengah jalan, menukar dengan yang hina
dan rendah.[12]
Karena manusia adalah makhluk yang dibekali cipta,
rasa dan karsa. Sedangkan Allah akan membagikan kepada mereka potensi kemampuan
yang berbeda-beda. Sebagian ada yang Allah beri potensi dan kemampuan melebihi
yang lain. Jikalau ia mampu mengembangkan potensi besar yang ia miliki dalam
dirinya, maka beruntunglah ia. Namun, jika potensi tersebut hanya sebatas
potensi yang mangkir dalam diri, tanpa ada usaha untuk menggalinya, sungguh ia
dalam kerugian yang besar.[13]
Bila sistem jasad terganggu oleh berbagai penyakit, keserasian
pikiran yang terkandung oleh jiwa seseorang terganggu oleh berbagai faktor dan
perilaku buruk. Walaupun pikiran berkuasa, ia tak lepas dari perilaku baik yang
sesuai dengan pikiran, akhlak, dan kegairahannya. Adalah tanggung jawab manusia
untuk menghapus akar-akar perangai yang menghitamkan kesenangan dan
kebahagiaannya. Dua unsur yang membantu menciptakan pikiran harmonis adalah optimisme
dan pandangan positif terhadap hidup dan orang lain. Optimisme dan prasangka
positif terhadap orang-orang sekitar merupakan jaminan kesenangan bagi
orang-orang yang hidup di lapangan kemanusiaan. Berlawanan dengan optimisme
adalah pesimisme dan berpikir buruk tentang orang lain, yang mengidentikkan
stabilitas pemikiran benar dan menurunkan kemampuan untuk bergerak ke arah
kesempurnaan.
Optimisme dapat digambarkan sebaik-baiknya sebagai
cahaya dalam kegelapan, yang semakin meluas dengan semakin meluasnya cakrawala
pemikiran. Bersama itu, tumbuhlah kecintaan terhadap keramahan dalam diri
manusia, sehingga membangun suatu perkembangan baru dalam pandangannya tentang
hidup. Optimisme memungkinkan manusia melihat warna kehidupan dengan lebih
indah, sehingga memampukannya melihat semua orang dalam cahaya dan kekuatan
baru. Dengan optimisme, penderitaan seseorang lenyap dan harapannya bertambah.
Tak ada faktor yang mampu mengurangi besarnya permasalahan dalam kehidupan
manusia sebagaimana optimisme.
Rona bahagia lebih nyata di wajah orang optimis, bukan
saja saat menikmati kepuasan melainkan juga sepanjang hidupnya, dalam situasi
positif maupun negatif, cahaya optimisme bersinar dari jiwanya yang senang
setiap masa. Alangkah besarnya faedah optimis itu. Oleh karena itu, jadilah
sosok yang optimis dengan penuh kesadaran. Dan optimislah selalu terhadap
kebaikan niscaya kita akan mendapatkan kebaikan itu.[14]
[1] Dudung
Hamdung, The 7 Personalities of Success, Gara Ilmu, Yogyakarta,
2009, hal. 246.
[2] Ibid,
hal. 245.
[3]
Triantoro Safaria, M.Psi., M.Si., Optimistic Quotient, Hanggar
Kreator, Yogyakarta, 2007, hal. 159.
[4] Mohammad
Fauzil Adhim, Positive Parenting, PT. Mizan Pustaka, Bandung,
2006, hal. 181-182.
[5] Yusuf
Al-Uqshari, Wujudkan Mimpi Anda, Gema Insani, Jakarta, 2006, hal.
43.
[6] DR.
Muhammad Musa Asy-Syarif, Seni Mengobati Iman, Abyan, Solo, 2008,
hal. 105.
[7] AN
Ubaedy, Optimis Kunci Meraih Sukses, PT. Visi Gagas Komunika,
Depok, 2006, hal. vi-vii.
[8] Solihin
Abu Izzudin, Zero to Hero, Pro-U Media, 2006, hal. 53.
[9] An.
Ubaedy, Op. Cit., hal. 87-88.
[10] Ibid, hal. 46-47.
[11]
Yusuf Al-Uqshari, Op. Cit., hal. 133-134.
[12]
Solikhin Abu Izzudin, Op. Cit., hal. 88.
[13]
DR. Muhammad Musa Asy-Syarif, Op. Cit., hal. 65.
[14]
Sayid Mujtaba Musawi Lari, Menumpas Penyakit Hati, Lentera,
Jakarta, 2000, hal. 28.