Senin, 09 April 2012

SIKAP OPTIMISME


PENANAMAN SIKAP OPTIMISME

A.    Pengertian Sikap Optimisme
Sikap optimisme berarti sikap yakin adanya kehidupan yang lebih baik dan keyakinan itu kita jadikan sebagai bekal untuk meraih hasil yang lebih baik. Kita kadang punya optimisme yang besar dan padam detik selanjutnya langsung punya sikap pesimis. Sebenarnya, untuk membedakan antara sikap optimis dengan pesimis itu tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Karena tergantung kepada cara kita memandang maka itu berarti yang berperan adalah diri kita sendiri dalam memilih dan menentukan kehidupan kita. Jika kita mempunyai keinginan dan tujuan yang sangat besar dan juga mempunyai persiapan dan pengetahuan yang diperlukan, ditambah dengan rasa optimis dan percaya diri. Maka segala tujuan kita pasti akan cepat tercapai/terwujud.[1]
Bahwasanya percaya diri dan optimisme itu saling terkait satu sama lain. Sebab, percaya diri tanpa ada optimisme tidak akan pernah ada artinya, karena sikap optimis merupakan daya yang besar untuk mendorong apa yang kita pikirkan dan lakukan. Dan percaya diri itu sangat membutuhkan sikap optimis.
Bayangkan, kita tidak akan pernah merealisasikan suatu pekerjaan yang kita inginkan jika kita tidak mempunyai rasa optimis untuk mampu mengerjakannya. Kalau sudah punya rasa optimis, tentu dengan sendirinya kita akan mempunyai sikap percaya diri yang sangat besar untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Jadi, sudah sangat jelas bahwa rasa percaya diri dan juga optimisme itu sangat penting dalam menapaki jalan kesuksesan bagi siapa pun dan dalam kondisi apapun.[2]
Untuk itu sikap optimis perlu dibina sejak dini pada anak-anak. Karena anak adalah peniru ulung maka optimisme itu perlu dicerminkan terlebih dahulu pada para orang tua. Untuk menularkan optimisme kepada anak, orang tua hendaknya selalu menunjukkan sikap optimistik. Misalnya, selalu memotivasi dengan berkata, “Kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini”, “Semua kesulitan ini pasti bisa kita atasi”, “Kamu tidak boleh menyerah dan putus asa, harus optimis dalam menghadapi kesulitan,” menunjukkan tindakan dan usaha yang maksimal saat menghadapi kesulitan. Orang tua dapat menunjukkan cara terbaik dalam menghadapi kesulitan, seperti dengan menunjukkan usaha yang tanpa henti untuk memecahkan tantangan, tidak mudah menyerah dan putus asa, dan senantiasa menunjukkan ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan.[3]
Namun hari ini banyak orang tua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anak optimis. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang menjadi penyebabnya. Sebagai contoh kita ajarkan anak berjilbab agar mereka menjadi orang yang memuliakan syariat Allah semenjak usia masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk tangan manusia yang kita bangkitkan. Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka?
Jika perkataan saat menyuruh memakai jilbab dan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi SAW mengingatkan: “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan sekalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?” Inilah seruan Nabi agar kita semua selalu beroptimis karena kita semua sama, yang membedakan hanyalah ukuran takwa.[4]
Optimisme itu ada beberapa macam. Ada optimisme orang lalai yang lebih dekat dengan berkhayal dibandingkan dengan realitas. Ada optimisme yang serius dan lurus yang mendorong pemiliknya untuk memandang dengan serius dan realistis. Dan, ia bukanlah perasaan alami atau keadaan kejiwaan yang dianugerahkan kepada beberapa orang yang beruntung. Namun ia adalah sikap dan akal yang dipilih oleh manusia dengan kehendaknya. Ia tercerminkan terutama pada tindakannya meneliti seluruh masalah yang terjadi atau ia alami.[5]

B.     Penanaman Sikap Optimisme dalam Perspektif Islam
1.      Pentingnya Sikap Optimisme dalam Kehidupan
Sikap optimisme sangat penting dimiliki oleh seseorang karena apabila seseorang memiliki rasa pesimis atau putus asa, seseorang tersebut seakan telah mati dalam usia yang dini. Hal itu karena ia merasa bahwa dunia sudah gelap, segelap alam kubur. Seketika itu ajal menjadi cita-cita dan harapannya seakan telah menjemput sebelum kematian sesungguhnya datang. Kematiannya seakan telah tercatat dalam barisan orang yang telah meninggalkan dunia, walaupun jasadnya masih hidup.[6]
Maka dari itu, ada beberapa alasan betapa pentingnya sikap optimisme dalam kehidupan yaitu:
Pertama, energi positif. Kalau bicara harapan sebatas harapan, tentunya harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa, lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini untuk mengeluarkan energi positif (dorongan). Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang baik. Memiliki harapan baik akan memunculkan energi dorongan yang lebih baik pula. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihkan dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu ada yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih da.
Kedua, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau hambatan yang dihadapi terkait dengan tingkat hambatan yang dihadapi terakit dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih lemah, cenderung lebih mudah menyerah pada realitas ketimbang memperjuangkannya. Secara agak lebih ekstrim, kita bisa membagi manusia dalam menghadapi masalah menjadi tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Borwn dalam Learn to be Winner, yakni the winner (pemenang), the loser (pecundang), dan the potential winner (calon pemenang). Menurut Kevin Costner, yang disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai impiannya. Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau melihat kondisi faktor internal, tentu peranan harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau pakai pedoman pendapat Greg Philip (The Ultimate Potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu adalah : a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol diri, d) sikap mental.
Ketiga, sistem pendukung. Optimisme juga berfungsi sebagai sistem pendukung kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berpikir berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk berhasil, dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain. Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita tidak boleh menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi positif, bisa mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.[7]
Perlu diingat bahwa menjadi orang yang optimis, tidak secara otomatis langsung membuat kita mendapatkan impian yang kita inginkan, tetapi untuk mendapatkan impian itu dibutuhkan batin yang optimis. Sehingga setiap kegagalan akan diganti oleh sebuah kesempatan yang setara atau bahkan lebih baik bila kita optimis dan tetap fokus pada sasaran tersebut, dan senantiasa membandingkannya dengan setiap kegagalan yang ada akan mengecewakan kita. Namun orang yang memiliki batin optimis tidak akan merasa seperti itu walaupun sasaran atau keinginannya tidak tercapai ia akan tetap optimis karena masih ada jalan lain baginya. Memang akan selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan yang terjadi hanya saja terletak pada bagaimana kita menyikapi setiap masalah-masalah tersebut.
Kegagalan dan kesuksesan adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Orang yang ingin sukses harus tahu bahwa ada saat-saat kegagalan. Yang penting di sini bukan sekedar mencari sukses, tetapi juga mengerti “apa yang menyebabkan kegagalan”. Bukan meratapi mengapa ini terjadi, tetapi berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan mengantisipasi seperti itulah gambaran sikap optimisme.[8]
Tetapi kalau melihat praktek hidup, tidak semua optimisme itu baik. Tidak semua optimisme itu kita perlukan. Ada bentuk-bentuk keoptimisan yang memang perlu kita jauhi. Ini antara lain :
Pertama, terlalu optimis. Kata Imam Ghazali, sesuatu yang serba terlalu itu akan memantulkan kebalikannya. Optimis itu jelas bagus tetapi terlalu optimis itu tidak bagus. Terlalu optimis artinya kita punya harapan yang berlebihan akan adanya kebaikan hari esok dan mengabaikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan keburukan.
Kedua, optimis tanpa dasar dan alasan. Seperti yang sudah kita bahas di muka, salah satu syarat mendasar untuk menjadi orang yang optimis adalah memiliki sasaran. Sasaran ini pun tidak sembarang, tetapi sasaran yang sudah kita pertimbangkan dengan akal sehat. Sasaran ini bukan fantasi atau khayalan yang dasarnya hanya mood sesaat. Kalau kita tidak memiliki sasaran yang jelas tetapi kita memaksa diri untuk optimis, ini bisa jadi kita mencoba berpura-pura optimis.
Ketiga, optimis hanya untuk tujuan optimis. Optimisme itu adalah jalan hidup, bukan tujuan hidup. Jalan di sini maksudnya alat yang perlu kita gunakan dalam menjalani hidup ini. Tujuannya apa kita optimis? Dengan optimis, kita punya dorongan yang kuat untuk melakukan hal-hal yang positif agar tidak mudah dikalahkan oleh kebrutalan kenyataan hidup ini. Bila tujuan itu tidak tercapai maka optimisme yang kita miliki adalah optimisme yang hanya untuk optimisme.
Meski secara teori semua orang sudah tahu perbedaan antara jalan dan tujuan ini, tetapi dalam prakteknya belum tentu. Banyak orang yang lupa membedakan antara jalan dan tujuan dalam praktek. Abraham Maslow pernah mengeluarkan nasihat bahwa salah satu yang penting untuk diingat bagi siapa pun yang ingin mengaktualisasikan potensinya adalah membedakan antara jalan dan tujuan ini dalam praktek hidup. Semoga ini selalu bisa kita ingat.[9]

C.    Manfaat Sikap Optimisme dalam Kehidupan
Orang optimis memiliki pandangan hidup yang fair. Seperti apa pandangan hidup yang fair ini? Fair artinya adil atau sesuai dengan bagaimana hidup ini. Sebetulnya semua manusia memiliki alasan yang tepat untuk optimis atau pesimis. Kalau bicara alasan yang bermanfaat untuk kita, tentu alasan optimis yang jauh lebih bermanfaat untuk kehidupan kita. Jadi yang perlu kita ingat di sini adalah membedakan alasan yang menurut kita benar dan alasan yang bermanfaat untuk kita. Manfaat optimisme adalah sebagai sumber inspirasi, vitalitas dan harapan.
Optimisme akan mendorong kita untuk mengangkat pandangan mata lebih atas, menciptakan masa depan bagi dirinya, dan tidak menjadikan masa depan sebagai sumber ketakutan atau ancaman. Pandangan hidup adalah pilihan yang kita ciptakan. Kalau kita menciptakan pandangan yang positif terhadap diri sendiri, ini tidak berarti di dalam diri kita tidak ada hal-hal yang negatif. Demikian juga kalau kita menciptakan pandangan yang positif terhadap keadaan, tidak berarti di sana tidak ada hal-hal negatif. Hal-hal yang positif itu ada di mana-mana sama juga seperti hal-hal negatif, yang ditawarkan kepada kita adalah pilihan.[10]
Jangan sampai kita termasuk di antara orang-orang yang menyalahkan diri kita sendiri karena kita dikalahkan dengan rasa minder kita, sehingga tidak bisa merasakan efek atau manfaat atas sikap optimisme dalam hidup kita. Karena semua orang pasti memiliki cita-cita, dengan berpandangan hidup optimisme ini kita bisa mewujudkan cita-cita kita dengan cara yang paling cepat dan tepat. Caranya adalah ketentuan dan keberanian, karena apa yang ingin kita raih dalam hidup ini tidak mendatangi kita, tetapi kitalah yang harus mendatanginya. Keberhasilan dan kesuksesan harus kita kejar, agar kita dapat meraihnya. Perhatikanlah bahwa orang-orang yang paling berhasil, yang mampu mewujudkan berbagai ambisi mereka, dan memperoleh masa depan yang paling gesit dan tekun. Percayalah bahwa setiap manusia mampu memiliki suatu kecakapan dalam berbagai bidang. Karena, semua orang tanpa terkecuali memiliki intelegensi alami yang sama.[11]
Potensi manusia sungguh luar biasa. Dengan kelebihan-kelebihannya diberikan Allah manusia dapat menaklukkan sesuatu yang tadinya tidak terpikirkan oleh diri mereka sendiri. Dan kesuksesan tidak semata-mata diukur pada hasil tapi juga pada proses-proses merencanakan dengan tujuan yang benar dan mulia. Proses mengorganisasikan dengan rapi dan sistematis. Proses melaksanakan dengan ikhlas, tekun, teliti dan profesional. Dan proses evaluasi dengan jujur dan semangat perbaikan tak kenal henti. Dan cita-cita adalah separo dari kesuksesan karena orang yang bercita-cita mulia tak mudah goyah untuk menggadaikan di tengah jalan, menukar dengan yang hina dan rendah.[12]
Karena manusia adalah makhluk yang dibekali cipta, rasa dan karsa. Sedangkan Allah akan membagikan kepada mereka potensi kemampuan yang berbeda-beda. Sebagian ada yang Allah beri potensi dan kemampuan melebihi yang lain. Jikalau ia mampu mengembangkan potensi besar yang ia miliki dalam dirinya, maka beruntunglah ia. Namun, jika potensi tersebut hanya sebatas potensi yang mangkir dalam diri, tanpa ada usaha untuk menggalinya, sungguh ia dalam kerugian yang besar.[13]
Bila sistem jasad terganggu oleh berbagai penyakit, keserasian pikiran yang terkandung oleh jiwa seseorang terganggu oleh berbagai faktor dan perilaku buruk. Walaupun pikiran berkuasa, ia tak lepas dari perilaku baik yang sesuai dengan pikiran, akhlak, dan kegairahannya. Adalah tanggung jawab manusia untuk menghapus akar-akar perangai yang menghitamkan kesenangan dan kebahagiaannya. Dua unsur yang membantu menciptakan pikiran harmonis adalah optimisme dan pandangan positif terhadap hidup dan orang lain. Optimisme dan prasangka positif terhadap orang-orang sekitar merupakan jaminan kesenangan bagi orang-orang yang hidup di lapangan kemanusiaan. Berlawanan dengan optimisme adalah pesimisme dan berpikir buruk tentang orang lain, yang mengidentikkan stabilitas pemikiran benar dan menurunkan kemampuan untuk bergerak ke arah kesempurnaan.
Optimisme dapat digambarkan sebaik-baiknya sebagai cahaya dalam kegelapan, yang semakin meluas dengan semakin meluasnya cakrawala pemikiran. Bersama itu, tumbuhlah kecintaan terhadap keramahan dalam diri manusia, sehingga membangun suatu perkembangan baru dalam pandangannya tentang hidup. Optimisme memungkinkan manusia melihat warna kehidupan dengan lebih indah, sehingga memampukannya melihat semua orang dalam cahaya dan kekuatan baru. Dengan optimisme, penderitaan seseorang lenyap dan harapannya bertambah. Tak ada faktor yang mampu mengurangi besarnya permasalahan dalam kehidupan manusia sebagaimana optimisme.
Rona bahagia lebih nyata di wajah orang optimis, bukan saja saat menikmati kepuasan melainkan juga sepanjang hidupnya, dalam situasi positif maupun negatif, cahaya optimisme bersinar dari jiwanya yang senang setiap masa. Alangkah besarnya faedah optimis itu. Oleh karena itu, jadilah sosok yang optimis dengan penuh kesadaran. Dan optimislah selalu terhadap kebaikan niscaya kita akan mendapatkan kebaikan itu.[14]



[1] Dudung Hamdung, The 7 Personalities of Success, Gara Ilmu, Yogyakarta, 2009, hal. 246.
[2] Ibid, hal. 245.
[3] Triantoro Safaria, M.Psi., M.Si., Optimistic Quotient, Hanggar Kreator, Yogyakarta, 2007, hal. 159.
[4] Mohammad Fauzil Adhim, Positive Parenting, PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2006, hal. 181-182.
[5] Yusuf Al-Uqshari, Wujudkan Mimpi Anda, Gema Insani, Jakarta, 2006, hal. 43.
[6] DR. Muhammad Musa Asy-Syarif, Seni Mengobati Iman, Abyan, Solo, 2008, hal. 105.
[7] AN Ubaedy, Optimis Kunci Meraih Sukses, PT. Visi Gagas Komunika, Depok, 2006, hal. vi-vii.
[8] Solihin Abu Izzudin, Zero to Hero, Pro-U Media, 2006, hal. 53.
[9] An. Ubaedy, Op. Cit., hal. 87-88.
[10] Ibid, hal. 46-47.
[11] Yusuf Al-Uqshari, Op. Cit., hal. 133-134.
[12] Solikhin Abu Izzudin, Op. Cit., hal. 88.
[13] DR. Muhammad Musa Asy-Syarif, Op. Cit., hal. 65.
[14] Sayid Mujtaba Musawi Lari, Menumpas Penyakit Hati, Lentera, Jakarta, 2000, hal. 28.